Rabu, 30 Maret 2011

Harimau dan Serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.

Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

**

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

Jumat, 25 Maret 2011

Cinta Ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
 
Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,

Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?

“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..


Ketika kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….

Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:

“Ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..

Ayah, Bapak kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

Rabu, 23 Maret 2011

Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.


Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya” “mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?””Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Kamis, 17 Maret 2011

Cangkir Yang Cantik

Sepasang opa dan oma pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu," kata si oma kepada suaminya."Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si opa.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing dan dan sangat menyakitkan.......Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! teriakku lagi.Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas!, teriakku dengan keras. Stooooooop ! Cukup ! Teriakku lagi. 

Tapi orang ini berkata "belum !" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan.Stop!stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi keperapian yang lebih panas dari sebelumnya! Toloooooong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin..kali ini aku hanya bisa berserah...kira-kira siksaan apalagi yg akan terjadi.. 

Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku."
Ya...., seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. 

”Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan,sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN........Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kurangan suatu apapun.” 
 
”Apabila kamu sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk kamu...” Bentukan demi bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai maka anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk anda.......Berdoalah...agar anda bisa seperti cangkir itu.... Amin.

Senin, 14 Maret 2011

Kopi, Susu, dan Teh

Pada jaman dahulu kala, ketika minuman kopi susu / capucino belum ditemukan, hiduplah 3 orang pedagang kopi,susu,dan teh. Toko mereka bersebelahan satu sama lain.
Warung Bu penjual kopi dan Pak penjual susu selalu ramai dikunjungi oleh tamu, karena produk mereka enak, dan pelayanan mereka pada tamu pun ramah. Tidak seperti Pak penjual teh yang mempunyai banyak sifat buruk.Mukanya sering muram dan cepat marah saat melayani.

Bulan demi bulan berlalu, warung Bu penjual kopi dan Pak penjual susu semakin laris.. Dan usaha mereka semakin berkembang. Mereka mulai menambahkan menu mereka seperti pisang goreng,martabak dan jajanan lainnya. Kedai mereka pun mulai dibuat bertingkat dua. Tidak seperti warung teh yang mentok begitu-begitu saja.

Suatu saat, emosi Pak penjual teh pun memuncak. Iri hati selama berbulan-bulan pun ingin dibalaskan. Maka suatu malam ia mengendap-endap ke dapur warung kopi dan mengambil sebagian dari bubuk kopi kopi itu lalu dicampurkan ke dalam susu. Demikian juga, ia mengambil sebagian susu itu dan dicampurkan ke kopi. Dalam hati ia mengharapkan supaya pelanggan warung kopi dan warung susu kecewa. Setelah itu, Pak penjual teh pun pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Esok pagi, saat Pak penjual susu dan Bu penjual kopi pun mulai mempersiapkan dagangan mereka, mereka pun tersentak kaget. Akhirnya mereka bertemu untuk berdiskusi, dengan hati yang tenang tanpa mempersalahkan satu sama lain. Dan mereka saling percaya satu sama lain , karena mereka sama-sama tercampur bahannya lagipula toko teh sebelah mereka seolah tidak buka lagi. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Pak penjual teh yang melakukan semua ini, tapi mereka diam saja dan lebih memilih untuk tidak membalas.

Tapi, pelanggan mereka sudah berdatangan. Mereka menjelaskan pada para pelanggan mereka bahwa terjadi kecelakaan (minuman mereka tercampur), tapi pelanggan bersikeras ingin mencoba sesuatu yang baru. Dengan sangat terpaksa, mereka menyuguhkan kopi susu tersebut.
Betapa kaget mereka, bahwa semua pelanggan yang ada disana berdecak kagum dan memuji minuman tersebut. Dan usaha mereka semakin laris dan jadilah minuman kopi susu berkembang sampai sekarang. Itulah alasan mengapa kopi susu lebih terkenal daripada tehsusu atau kopiteh. Seandainya saja pedagang teh tersebut tidak kabur, mungkin sudah terjadi tehsusu / kopiteh duluan.

Inti dari cerita ini adalah tetaplah bersyukur dalam setiap masalah, percayalah bahwa Tuhan sudah sediakan berkat dalam setiap masalah.

Rabu, 09 Maret 2011

Kisah Dua Ekor Burung

Dua ekor burung bernama cicit dan cuit memutuskan untuk membuat sarang pada cabang-cabang pohon cemara. Hari demi hari mereka mencari rerumputan kering kemudian dengan menjepit rumput-rumput itu di paruh, mereka mengantarnya ke cabang pohon cemara. Kedua burung itu bekerja keras, mematuk, menarik, dan merangkai. Tak lama kemudian terciptalah sebuah sarang yang cukup besar dan nyaman. Di situlah mereka tinggal selama berbulan-bulan. Mereka tidur, bercanda, bahkan bertelur di sarang itu, sehingga rasanya sarang itu sudah menjadi bagian hidup mereka.

Suatu hari seorang petani menebang pohon cemara tersebut. Kedua burung yang sudah berbulan-bulan lamanya tinggal di pohon itu terpaksa harus terbang meninggalkan sarang mereka. Beberapa butir telur menggelinding dan akhirnya pecah. Tak jauh dari situ, sambil bertengger di sebuah rantai kering, cicit dan cuit mengamati semua yang terjadi. Cicit berkata sambil menangis : "Oh sarangku, oh telurku... aku sudah kehilangan segalanya, di mana lagi akan kudapatkan cemara kokoh untuk membangun sarangku." Cicit nampak sangat bersedih dan ia terus menangis sepanjang hari. Melihat kesediahan temannya, cuit berusaha menghibur : "Tenang saja kawan, tak perlu risau. Kita masih bisa mencari tempat lain dan kita akan membangun sarang yang baru di sana." Namun, cicit terus maratapi nasibnya dan tidak mau beranjak dari ranting kering di mana ia bertengger. Merasa percuma membujuk temannya, cuit meninggalkan cicit dan terbang mencari pohon lain di mana ia bisa membangun sarang yang baru. Sedangkan cicit masih tetap bertengger di ranting kering sambil meratapi nasibnya.

Panas, hujan, dan angin datang silih berganti, tetapi cicit tetap tinggal di ranting kering dalam kesedihan. Lama-kelamaan karena tidak lagi peduli dengan dirinya, cicit mati di ranting kering itu. Berbeda dengan nasib cicit, cuit yang memutuskan untuk pergi mencari pohon lain kini sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Ia membangun sarangnya di sebuah pohon beringin yang sangat rindang dan kokoh serta bertelur dan beranak pinak di sana.

Kehidupan tidak pernah menjanjikan sesuatu yang abadi. Banyak hal yang dapat berubah dan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Janganlah terperangkap dalam kesedihan dan penyesalan karena kenangan indah atau kejayaan yang pernah kita raih. Tuhan mengajar kita untuk dapat menghadapi segala situasi dan keluar sebagai pemenang. Jangan meratap ketika "sarang" kita dibongkar. Percayalah bahwa tangan Tuhan selalu terulur dan siap mengangkat kita kembali. Tidak ada kekalahan bagi orang yang menaruh harapan serta percayanya kepada Tuhan. Ketika "sarang"nya dibongkar, ia akan terbang mencari tempat lain dan membangun "sarang" baru yang lebih baik. Bukankah Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang percaya kepadaNya? Ketika jatuh, tanganNya akan menopang kita.

Minggu, 06 Maret 2011

Ikan Lemah Yang Berharga

Ikan Lemah yang Berharga
Suatu hari di kedalaman laut hidup segerombol ikan karang yang cantik dan menawan. Mereka bak foto model. Banyak penyelam yang sering mengambil foto mereka untuk dijual. Karena kepopuleran mereka, mereka menjadi sombong dan tidak mau bergerombol dengan sembarang ikan lain. Sampai-sampai mereka membuat sebuah klub khusus ikan-ikan yang sering difoto oleh para penyelam.
Suatu kali ada seekor ikan yang hendak mendaftar di klub tersebut. Ikan itu panjang dan hanya berwarna hitam dan abu-abu. Sungguh ikan yang tidak cantik.
“Maaf, klub ini hanya untuk mereka yang sering menjadi model foto bagi para penyelam. Melihat warnamu yang menyedihkan itu, kami kira, kamu tidak cocok untuk difoto, tapi untuk disantap” sahut mereka cekikikan sambil memamerkan sirip mereka yang indah.
“Tapi aku sering difoto” jawab ikan buruk rupa ini
“Kami tidak percaya. Buktikan dulu pada kami. Besok pagi para penyelam akan memfoto kami lagi. Datang lah kemari dan kita lihat apakah dia akan memfoto mu lebih banyak dari kami” tantang ikan berwarna biru kuning nan cantik.
Keesokan harinya, banyak penyelam yang datang ke terumbu karang itu. Seperti biasa ikan-ikan hias keluar sambil berpose dengan cantiknya. Mereka menunggu ikan buruk rupa yang berjanji akan muncul, namun setelah beberapa lama dia tidak muncul juga. Mereka saling tertawa karena tahu ikan buruk itu tidak mungkin datang mungkin karena malu akan kulitnya yang jelek.
Tiba-tiba seorang penyelam berseru-seru membuat semua penyelam membalikkan badannya ke suatu titik. Ada seekor hiu raksasa..!! Semua penyelam bergegas mencari angle / sisi yang baik untuk dapat memfoto ikan besar ini. Foto hiu harganya mahal karena susah untuk mendapatkannya dan harus melalui resiko yang besar. Ikan-ikan karang ditinggalkan begitu saja.
“Tentu saja dia populer. Siapa yang dapat melawan hiu?” sahut seekor ikan karang.
Tapi samar-samar dari kejauhan terdengar suara. “Hai ikan-ikan karang. Lihat aku.. lihat aku”.
Ikan-ikan karang itu menoleh mencari siapa yang memanggil-manggil mereka. Tentu saja bukan hiu karena hiu terkenal jarang berbicara dengan ikan lain. Hiu ditakuti oleh semua ikan yang ada di klub itu. Ikan-ikan karang tadi mencari-cari dan melihat lambaian sirip ikan buruk rupa itu tepat menempel disisi hiu raksasa tadi.
“Ini aku, ikan yang kalian sebut buruk rupa. Dan aku bawa sahabatku si hiu. Dan lihatlah semua penyelam itu memfoto kami, kan”
Ikan itu adalah ikan remora...
Teman-teman, disaat dunia melihatmu sebagai seorang yang berkekurangan dan buruk rupa. Disaat mereka memandang sebelah mata padamu. Ingatlah .. Memang kamu adalah seekor remora yang tidak indah, Tapi kamu punya sahabat, hiu yang kuat, yaitu Tuhan yang maha kuasa, yang berperang buat kamu.
Jangan menjadi sombong karena keelokan dan kelebihanmu seperti ikan-ikan hias tadi. Karena sekali saja hiu itu memangsa ikan hias tadi, keindahan ikan hias menjadi tidak berguna.

Seperti remora yang senantiasa mengikuti hiu.
Maka ikutilah Tuhan, takutlah dan bersandarlah padaNya seumur hidupmu

Semoga Memberkati,

DOA? Sekedar Ucapan Sajakah?

Suatu kali, ada sebuah keluarga kristen, yang sedang ingin bersantap malam, di sebuah rumah makan. Seperti biasa, sebelum makan sang ayah pun memulai untuk memimpin doa, "Tuhan, kami mengucap syukur atas setiap makanan dan minuman yang Engkau sediakan buat kami pada malam hari ini. Berkatilah semua di dalam nama Yesus, Amin." Selesai berdoa, merekapun mulai makan, "Bah, Teh apa ini? Pahit sekali!""Dagingnya tidak enak. Alot!" "Rugi betul kita makan di sini" Demikian sang ayah memprotes hidangan di rumah makan itu.
Putrinya yang masih kecil melihat itu dan bertanya kepada ibunya. "Ma, Tuhan dengar ga sih doa kita sebelum makan tadi?" Sang ibu menjawab "Iya dong, tentu saja Tuhan dengar" Lalu putrinya, kemudian bertanya kepada ayahnya "Pa, apa Tuhan juga dengar kalo Papa marah-marah saat makan?" Sang ayah yang rupanya mendengar pertanyaan putrinya sebelumnya menjawab perlahan "Ehmmm, ya... sepertinya sih, Tuhan juga dengar, sayang" "Jadi, kira-kira mana yang Tuhan lebih percaya? Doa atau ucapan Papa barusan?"
 
Semoga ilustrasi di atas bisa menjadi pelajaran buat setiap kita, sayapun juga merasa bahwa saya pernah dan bahkan sering kali mengalami hal seperti ini. Kadang kala orang kristen berdoa layaknya seorang artis yang naik ke panggung, bahkan ada yang berdoa seperti bicara telepon. Maksudnya, saat kita berdoa, kita mungkin tampil dengan begitu manis, penuh iman, dan ucapan syukur. Namun, begitu kita membuka mata, dan menghadapi kenyataan, sikap kita sepertinya 180' berbeda. Seakan-akan Tuhan hanya mendengar saat kita menutup mata dan berdoa. Padahal di I SAM 16:7 berkata "Tuhan melihat hati" Artinya, Ia bukan saja mendengar apa yang kita ucapkan ketika berdoa, tetapi mengetahui isi hati kita. Doa tentu saja bukan sekedar tradisi, di mana kita melapor pada Sang BOS. Doa tentu saja juga bukan cara kita meyakinkan diri sendiri, tetapi doa adalah tanda penyerahan diri kita kepada-Nya. Dia Maha Tahu, tapi kita tetap perlu berdoa sebab itulah bukti kita memang percaya pada-Nya.

Sabtu, 05 Maret 2011

Sebuah Ciuman Selamat Tinggal

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
“Waduhhh,memalukan sekali aku ini, di usia tua kok tambah ngaco..”
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakan saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu. Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah lain-lainnya.
“Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu.”
Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
“Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara - saudara lainnya yang masih dirumah.”
Ia menatap kami dan berkata, “Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.”
Suara Frank mulai merendah sedikit.
“Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!”
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar.Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran. Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.’
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. ‘Kau benar,’ katanya. ‘Kau sudah jadi pemuda besar……seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi.’”
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. “Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak. Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut. Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.”
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, “Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku….untuk merasakan wajah tuanya yang kasar……untuk mencium bau air laut dan samudra padanya…..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku.
Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu.
Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah ciuman selamat tinggal.”
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita…..
(Thomas Charles Clary)